Loading Posts...

Advertisement

     

Iim Salah satu Srikandi Juri Rajawali Indonesia : “ Jadi juri 1 % Bakat, Sisanya harus kerja keras”

IAGROBISBURUNG.COM – GRESIK. Saat gelaran event 2nd Anniversary Bramasta BC di Gresik, Selasa (25/12) di Gelanggang Seni dan Olahraga Indoor, WEP, terlihat satu juri wanita tengah menilai di bawah gantangan. Usut punya usut, Srikandi pengadil Rajawali Indonesia (RI) tersebut akrab dipanggil Lim asal Sampang Madura. Lantas kenapa memilih jadi juri burung? Pada dasarnya sejak kecil, Ia memang penyayang hewan. “Awalnya jadi juri hanya diajak, lama lama kok malah suka burung dan keterusan menjuri, tidak terasa sudah setahunan ini,” ujar Iim usai event Bramasta BC.

Jelang pemberian bendera juara copy

Ia juga menjelaskan, selain dirinya, di RI sebenarnya banyak juri wanita dengan kemampuan di atasnya. “Tapi beda daerah kebetulan di Madura sendiri hanya saya yang sudah diklat. Ada satu lagi belum diklat tapi kemampuannya sudah bagus, melebihi saya malah,” tandasnya. Meski awalnya sempat bingung saat ikut diklat juri RI, namun perlahan keraguan tersebut dapat diatasi. “Awalnya memang bingung, tapi prinsip saya, terus belajar dan belajar, tidak patah semangat serta harus terbiasa biar bisa,” ungkap juri yang juga merawat Lovebird sebagai pengisi waktu saat off menjuri.

Iim saat di bawah gantangan

Dan, pernyataan ‘1% persen bakat, 99% kerja keras’ keluar saat lajang berusia 21 tahun tersebut, agrobisburung.com beri ilustrasi, bagaimana seorang wanita yang magang sebagai reporter, diberi penugasan lapangan. Karena bingung, siapa yang harus diwawancarai dan bagaimana memulainya, karena pos waktu itu rubrik politik, tidak sampai hitungan jam, saat di lapangan langsung balik kanan dan tidak pernah balik lagi ke kantor tempat Ia magang.

Iim juri Rajawali Indonesia dari Sampang

“Berarti dia tidak suka dan menekuni bidang tersebut. Semua pekerjaan, ini menurut saya, harus ada “cinta”. Detailnya, bakat hanya satu persen, sisanya kerja keras. Kalau sudah cinta, kita nyaman dengan pekerjaan itu. Untuk penjurian, usai mengikuti diklat, praktek menilai di lapangan, bertahap sesuai kapasitas kemampuan. Tidak langsung di latpres atau event besar. Latber dulu, latpres baru event, kurang lebihnya seperti itu,” ungkapnya.

Saat penilaian lovebird

Terakhir, soal event atau peristiwa yang berkesan dan menantang saat menjadi juri? Ia menjawab, ketika Piala Jatim di Kampus Unesa silam. “Event tersebut berkesan dan yang menantang justru saat awal memutuskan menjadi juri. Tidak hanya pandangan teman laki laki, di desa pun orang menilainya tidak dengan positif,” pungkasnya.

Tinggalkan Komentar

Advertisement