Hendry WAT Lanjutkan “Tongkat Estafet” WAT BF Tasikmalaya Sejak 1997 & Perjuangan Menjaga Konsistensi dengan Pakem Kualitas Over All-nya

Sejak dulu (era ’80-’90-an) WAT Bird Farm Tasikmalaya menjadi salah satu kiblat perkutut nasional. Diawali dari Watma Subandi (ayahnya) dan kemudian “tongkat estafet” dilanjutkan Hendry Sobbandi, sejak tahun 1997. Hingga saat ini konsisten dengan pakem burung irama & air suara (latar) mewah. Sesuai perkembangannya, WAT BF selalu mengikuti update terkini. Saat ini bahkan makin lengkap dengan kualitas over all-nya yang memenuhi syarat: volume besar, irama dan air suara (latar). Para senior, baik peternak mupun pelomba tetap setia dan berkiblat ke WAT. Selain itu, tidak sedikit pula produknya diminati kungmania pemula dan rumahan juga. Konsistensinya dalam mengkolaborasikan materi import dengan lokal-nya dianggap mewakili kebutuhan semua kalangan kungmania saat ini.

Tinggalkan Komentar

Hendry WAT saat transaksi bersama Purnomo Banyuwangi, 1997 (kiri) & Purnomo (2025)

Hendry WAT saat transaksi bersama Purnomo Banyuwangi, 1997 (kiri) & Purnomo (2025)

TASIKMALAYA, agrobisburung.com – Sejak dulu (era ’80-’90-an) WAT Bird Farm Tasikmalaya menjadi salah satu kiblat perkutut nasional. Diawali dari Watma Subandi (ayahnya) dan kemudian “tongkat estafet” dilanjutkan Hendry Sobbandi, sejak tahun 1997. Hingga saat ini konsisten dengan pakem burung irama & air suara (latar) mewah. Sesuai perkembangannya, WAT BF selalu mengikuti update terkini. Saat ini bahkan makin lengkap dengan kualitas over all-nya yang memenuhi syarat: volume besar, irama dan air suara (latar). Para senior, baik peternak mupun pelomba tetap setia dan berkiblat ke WAT. Selain itu, tidak sedikit pula produknya diminati kungmania pemula dan rumahan juga. Konsistensinya dalam mengkolaborasikan materi import dengan lokal-nya dianggap mewakili kebutuhan semua kalangan kungmania saat ini.

Hendry WAT saat transaksi bersama Purnomo Banyuwangi, 1997 (kiri) & Purnomo (2025)

Hendry WAT menceritakan kronologis dan perjalanannya selama berkecimpung diduna hobi perkutut. Ada anggapan jika selama ini kiprahnya berada dibawah bayang-bayang nama besar ayahnya yang dikenal sebagai salah seorang maestro dan legenda hidup perkutut Indonesia. Padahal, sejak 1997 saat “tongkat estafet” diberikan kepadanya, ia langsung menjalaninya sendiri. Sejak saat itu pula ia diberi keleluasaan mengelola semuanya, seperti materi kandang hingga manajemen keuangan. “Pada awalnya diberi arahan, cara beternak perkutut yang baik dan benar. Kemudian main ke lapangan untuk mengukur kualitas hasil ternak. Semuanya harus dijalani dengan hati agar benar-benar bisa dinikmati. Setelah itu, saya dilepas untuk mandiri sejak 1997,” ungkap Hendry WAT.

Showroom Legendaris WAT Wayang yang lebih 30 tahun menjadi saksi bisu perjalanannya

Hendry WAT melanjutkan, selama lebih dari 30 tahun ia melakoni dan menikmati perjalanan hobi perkututnya secara langsung. Baik suka maupun duka, ia hadapi sendiri. Baginya pengalaman adalah guru terbaiknya. Moment-moment indah pun masih terekam dalam ingatannya. Terutama ketika keberhasilannya melahirkan burung-burung berkualitas merata diakui semua kalangan kungmanaia Tanah Air.

Karena menurutnya, peternak dianggap berhasil jika mayoritas kandang menghasilkan produksi yang kualitasnya merata. Tetapi jika hanya beberapa kandang saja yang berkualitas dan booming, mungkin bisa dianggap kebetulan atau keberuntungan. Dari hal-hal seperti ini lah Hendry WAT belajar banyak. Sehingga pada saat menjalani ternak perkutut dilakoninya dengan teliti dan hati-hati. Diharapkan hasilnya bisa optimal.

Ia menceritakan, pada era 90-an akhir saat jamannya Leo Star One (TL), mulai booming perkutut suara besar. Kemudian ia juga mengikutinya dengan mulai mencetak anakan dengan kualitas suara yang lengkap: volume besar, irama, air suara (latar), tembus cowong dan ujung panjang. Termasuk lahirnya Meteor Selancar yang melegenda menjadi bagian dari kesuksesan WAT dalam melahirkan burung kualitas lomba.  Setelah melalui tahapan proses, hasil produksi WAT BF kemudian diakui kualitasnya merata. Hal itu dibuktikan dengan adanya kontrak jangka panjang oleh Alm. Atiek Sukabumi pada tahun 2002 hingga 2008.

Setelah itu, untuk main ke lapangan Hendry WAT pun merekrut burung import (TPP) yang diberi nama Jamaica. Pada tahun 2008-2010 Jamaica merajai konkurs nasional, hingga menjadi salah seekor perkutut legenda. Bersama Jamaica pula ia sempat mendapatkan pengalaman pahit, dimana jagoannya ditahan nilainya oleh juri karena intervensi salah seorang petinggi (pengurus) pusat, sehingga gagal meraih juara. Ia juga pernah membiarkan perolehan poin Jamaica dipotong karena absen dalam Mandatory Fight, sebagai bentuk kekecewaannya. “Saat itu penentuan juara umum LPI. Kalau hadir saja walaupun tidak masuk nominasi juara, Jamaica sudah pasti juara umum. Tapi karena absen, jadi poinnya dipotong dan tidak jadi juara umum. Saya hanya ingin membuktikan, jika saya tidak mengejar juara 1. Tapi sportifitas lah yang harusnya dinomorsatukan,” tandasnya.

Sejak saat itu, diakui Hendry WAT, ia mulai berniat untuk fokus di ternak. Kalau pun ke lomba mungkin hanya sesekali untuk memantau perkembangan terbaru dan bersilaturahmi dengan rekan-rekan Kungmania Tanah Air. Itu dibuktikannya ketika kembali aktif lagi pada tahun 2023 lalu, ia membangun formasi kandang baru yang sesuai dengan perkembangan terkini. Masih tetap konsisten dijalurnya, dengan pakem over all-nya yang memenuhi syarat. Setelah melalui proses gonta ganti materi indukan, akhirnya kini mulai dirasakan keberhasilannya. Kualitas produksinya merata dan peminatnya semakin banyak.

Selain pemain senior yang kembali turun gunung, juga para pemula hingga penggemar rumahan juga mengakui kualitas anakan WAT yang merata. Contohnya, Purnomo Banyuwangi salah seorang pemain lama yang pernah membeli produk WAT pada akhir 90-an, kini kembali aktif dan tetap antusias terhadap produk WAT. Setelah lebih dari 25 tahun, ia pun kembali membeli anakan WAT generasi terkini. Selain itu, Didik Ayu BF Kediri juga akhir tahun lalu memborong produk WAT dan belum lama ini juga mem-booking beberapa kandang terbaru WAT. “Suatu kehormatan atas kepercayaan yang luar biasa. Terimakasih,” ujarnya.

 

 

Tinggalkan Komentar